Selasa, 31 Agustus 2010

The Man After 40th Age and More (What Happen)



Mencari-cari makna dan tujuan hidup. tanpa literatur, berjalan mengikuti waktu yang terus berdetak dan tidak pernah akan kembali lagi. Mennjalani, menikmati, menghadapi semua kejadian dengan pikiran yang sederhana, lemah dan hanya memanfaatkan modal yang terbenam dibenak yang sudah lama tidak di perhatikan lagi, ketajaman, kapasitas, dan kemampuannya.

Hidup, hanya menjalani rutinitas seperti yang kemarin, tidak ada rencana jangka panjang ke depan 5 sampai 10 tahun, tapi hanya 1 minggu, bahkan hanya rencana harian yang sederhana mengingatkan keperluan 12 jam saja.

Kalau mau membanding-bandingkan, bagaimana kehidupan orang didekat kita, saudara kita, teman kita serta orang lain disekitar kita, pertanyaannya adalah sama atau berbeda dengan kehidupan kita sehari hari.

Langkah apa yang akan di lakukan berikutnya, tanpa rencana kedepan, sekekedar ingat sebentar lantas lupa lagi. tanpa ada pijakan yang pasti, mau jadi apa dan menjadi apa didapat adalah suatu pertanyaan yang besar yang sekali-sekali tersadarkan bila saat ingat saja atau karena terdiam memikirkan waktu yang terus berjalan dan sampai kapan ini terus berlangsung.

Waktu terus berjalan, hari ini sama dengan hari kemarin artinya esokpun demikian, atau dangkalnya penilaian, rasa, sensitifitas diri atas kejadian-kejadian disekeliling, hingga tidak bisa membedakan sesuatu yang jelas dan terang.

Hari ini lebih tidak lebih berarti dari hari kemarin, hari ini sedikit lebih berarti dari kemarin, bagaimana hari esok ?.

Adakah alat untuk mengetahui, menilai suatu yang di jalani seseorang dalam kehidupannya sehari-hari. sehingga kita dapat menilai, membandingkan setiap hasil-hasilnya.